Korban
Kalau membaca kata korban, tentunya yang terlintas di kepala kita adalah pihak yang dirugikan. Lalu timbullah kenapa ada kata korban. Korban itu sendiri muncul dan memang harus diterima bahwa dalam satu pilihan pasti ada jatuh korban. Baik itu korban perasaan, jiwa, kepentingan dan sebagainya.
Di sekitar kita juga banyak korban. Bahkan kadang kita sendiri menjadi korban perasaan atas satu kejadian di sekitar. Kenapa timbul korban? Nah, bingung gak? Saia dikit bingung dikit nggak. Tapi, korban itu menurut saia sendiri timbul karena adanya pilihan. Pilihan menjadi korban atau bahasa kerennya mengorbankan diri, dan mengorbankan orang lain yang kasarnya, cari kambing hitam. Yah, menyalahkan orang lain adalah satu tindakan mencari korban juga loh. Piisss.
Jadi, kenapa Shinichi yang suka ngakak dengan tawa khas ahak…hak…hak…-nya kali ini bicara tentang korban yang menuntut pemahaman lebih? Ntah ya, saia cuma merasa ada terlalu banyak korban akibat ketidakbecusan satu pihak di negara ini. (baca. Indonesia). Siapa? Kalau korbannya tentu adalah rakyat Indonesia itu sendiri. Lalu siapakah yang tidak becus? Ayo siapa?
Jawabannya adalah pemerintah.
Pemerintah Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan jiwa dan kepribadian rakyat. Tidak bisa dipungkiri kalau lingkungan yang paling berpengaruh membentuk kepribadian seseorang adalah keluarga. Tapi kita musti sadar juga bahwa ada aturan rumah tangga yang global se-Indonesia yang berlaku. Bagaimana jika aturan itu seperti perahu tanpa nakhoda di tengah-tengah gelombang laut?
Seperti sekarang inilah dampaknya.
Ntar aja deh saia lanjutin. Lagian tulisan ini cuma unek-unek dan keburu. Hehehe. Kabbuuuurrr